Friday, May 4, 2007

Isyarat Dalam Duduk Tasyahhud

Isyarat Dalam Duduk Tasyahhud



Dalil Isyarat Dalam Tasyahud


قال وائل بن حجر رضي الله عنه في صفة صلاة رسول الله ثم قعد فافترش رجله اليشرى ووضع كفه اليشرى على فخذه وركبته اليشرىوجعل حدمرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض ثنتين من أصا بعه و حلق حلقة ثم رفع أصبعه فرأيته يحركهايدعوبها


Wa'il ibnu Hujr رضي الله berkata: (tentang sifat sholat Rosulullah )' "Kemudian beliau duduk dan membentangkan kaki kirinya, dan meletakan telapak tangan yang kiri diatas paha dan lutut yang kiri, dan beliau meletakan ujung siku kanannya di atas paha kanannya kemudian menggenggam dua jarinya (kelingking dan jari manis)lalu membuat satu bulatan (ibu jari dan jari tengahnya) dan mengangkat jari (telunjuknya). Aku melihat beliau menggerak-gerakan telunjuknya sambil berdoa dengannya."

Shohih ibn Khuzaimah 1:354 no.714, Shohih ibn Hibban 5:170 no. 1860, sunan an-Nasa'iy 2:126 no.889, 3:37 no.1268, Musnad Ahmad ibn Hanbal 4:328, al-Mu'jam al-Kabiir 22:35 no.82


قال ابن الزبير رضي الله عنهما:كان رسول الله إذا قعد يدعو وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليشرى على فخذه اليشرى و أشار بأصبه السبابة


Ibn az-Zubair رضي الله عنهما berkata: "Rosulullah apabila duduk berdo'a (tahiyyat), meletakan tangan kanannya diatas paha kanannya dan tangan kirinya diatas paha kirinya; dan beliau berisyarat dengan telunjuknya."

Shohih Muslim 1:408 no.579

Derajat Hadits 'Laa Yuharrikuhaa'


قال ابن الزبيررضي الله عنهما كان النبي يشير بأصبعه إذا دعا ولايحركها


Ibn az Zubair رضي الله عنهما berkata, "Nabi berisyarat dengan telunjuknya apabila berdoa dan beliau tidak menggerak-gerakannya."

Sunan Abi Dawud 1:260 no.989, Sunan an-Nasa'iy 3:37 no.1270, musnad Abi 'Awanah 1:539 no.2019

Pertama Imam ibn al Qoyyim, di dalam kitabnya, Zad al Ma'ad 1:60 berkata, "Mengenai Hadits riwayat Abu Dawud dari Abdullah ibn az Zubayr bahwa Nabi berisyarat dengan telunjuk dan tidak menggerak-gerakannya, maka tambahan 'tidak menggerak-gerakannya' itu tentang ke-"shohih"-annya terdapat kritikan, karena sesungguhnya Imam Muslim telah menyebut hadits ini dengan panjang pada kitab shohih-nya dari 'Abdullah ibn az Zubayr dan ia idak menyebut tambahan ini. Tetapi 'Abdullah ibn az Zubayr berkata:

"Rosulullah apabila duduk di dalam sholat, ia menjadikan kaki kirinya di antara paha dan betisnya dan menghamparkan kaki kanannya, dan meleakan tangan kanannya diatas kaki kanannya sambil berisyarat dengan jari (telunjuk)."

Lagipula Hadits riwayat Abu Dawud dari 'Abdullah ibn az Zubayr ini tidak menunjukan di dalam sholat, dan andaikan menunjukan dalam sholat, keadaan haditsnya nafi' (meniadakan menggeraka-gerakan), sedangkan Hadits Wa'il ibn Hujr itu mutsbit (menetapkan adanya menggerak-gerakan); dan yang mutsbit itu lebih didahulukan (daripada yang nafi'). Seain itu, Hadits Wa'il ibn Hujr adalah Hadits shohih sebagaimana telah diterangkan oleh Abu Hatim pada kitab shohihnya.

Pen-tahqiq Zad al Ma'ad menilai bahwa hadits Wa'il ibn Hujr itu sanad-nya shohih, demikian pula ibn Khuzaimah dan ibn Hibban. Hadits 'Abdullah ibn az Zubayr sanadnya hasan bahkan dinyatakan shohih oleh an Nawawiy di dalam al-Majmu' (Pen-tahqiq 'Abd al Qodir al Amauth dan Syua'ib al Amauth 1:238).

Kedua, Nashiruddin al Baniy pada kitabnya, shifat sholat Nabi (al Maktab al Islamiy cet. IV hal. 170), mengatakan,


"Dan Hadits bahwa ia tidak menggerak-gerakan telunjuknya tidaklah tsubut (kuat) dalam hal sanadnya, sebagaimana telah saya terangkan pada dloif Abi Dawud no. 175, Dan kalaupun tsubut, Hadits itu nafi' (meniadakan adanya menggerak-gerakan telunjuk), sedangkan Hadits dalam bab ini (dari Wa'il ibn Hujr) mutsbit (menyatakan adanya menggerak-gerakan telunjuk), Yang mutsbit mesti didahulukan atas yang nafi', sebagaimana telah diketahui dikalangan para 'ulama."

Hadits 'Abdullah ibn az Zubayr itu diriwayatkan oleh Abu Dawud (kitab ash Sholat bab "al-Isyarat fi at-tasyahhud" I:227), an Nasa'iy (pada bab "Qobdli ats tsintaini min ashabi'i al-yadi al-yumna wa 'aqdli al-wustho wa al-ibham" 1:31-32, semuanya dari jalan Hajjaj dari ibn Juraij, dari Ziyad, dari Muhammad ibn 'Ajlan, dari 'Amir ibn 'Abdillah ibn az Zubayr, dari 'Abdullah ibn az Zubayr, bahwa Nabi berisyarat dengan telunjuknya apabila berdoa dan tidak menggerak-gerakannya.

Ibn Juraij berkata, "Dan 'Amr ibn Dinar menambahkan. Ia berkata "Ibn Juraij telah mengabarkan kepadaku dari ayahnya ('Abdullah ibn az-Zubayr) bahwa ia telah melihat Nabi berdoa seperti itu dan Nabi meletakan tangan kirinya diatas paha kirinya."

Keterangan dan Takhrij Hadits.

1. Rawi yang bernama Hajjaj pada sanad ini adalah Hajjaj ibn Muhammad sebagaimana tercantum pada sanad al Baihaqiy.
2. Yang disebut Ziyad adalah Ziyad ibn Sa'ad ibn 'Abdurrohman, ia seorang rowi tsiqot dan tsabit (kuat) (Tahdzib at-Tahdzib 3:369-370)

3. Perkataan Ibn Juraij, " 'Amr ibn Dinar menambahkan; ia berkata "'Amir telah mengabarkan kepadaku dari ayahnya dan seterusnya." Pertama, Ziyad dengan lafazh (shighot al-ada') akhbaroniy (telah mengabarkan kepadaku). Kedua, 'amr ibn Dinar dengan lafazh (shighot al-ada') qoola (ia berkata), yakni 'Amr ibn Dinar.

4. Dinar yang menerima dari 'Amir ibn 'Abdillah ibn az-Zubayr ada dua orang rowiy, yaitu Muhammad ibn 'Ajlan dan 'Amr ibn Dinar.

Jelasnya Hadits ini diriwayatkan dari 'Amir ibn 'Abdillah ibn az-Zubayr dari ayahnya, melalui dua jalan:

jalan Pertama:
Hajjaj
Ziyad
Muhammad ibn 'Ajlan
'Amir ibn 'Abdillah ibn az-Zubayr
'Abdullah ibn az-Zubayr

Dengan lafazh yang artinya: "Nabi berisyarat dengan telunjukanya apabila ia berdoa dan beliau tidak menggerak-gerakannnya."

Pada sanad ini terdapat dua 'illat (cacat.

Pertama, Hajjaj ibn Muhammad, walaupun ia seorang Periwayat yang tsiqot dan tsabit, diakhir usianya itu ia ikhtilath (pikun) dan dalam keadaan demikian masih meriwayatkan Hadits (Tahdzib at-Tahdzib 2: 205-206 ). Pada riwayat ini tidak diketahui atau paling tidak diragukan, apakah ia meriwayatkannya sebelum ikhtilath atau sesudahnya, terhadap riwayat yang seperti itu, hukumnya didiamkan atau dianggap lemah sebelum terdapat keterangan yang tegas atau ada rowiy lain yang tsiqot yang menyetujui riwayatnya. Keadaan Hajjaj ibn Muhammad menyendiri dalam periwayatannya ini. Sehingga kalau kita periksa riwayat-riwayat dari 'Amir ibn 'Abdullah dari 'Abdullah dari 'Abdullah ibn az-Zubayr tidak kita dapati tambahan 'laa yuharrikuhaa', kecuali dari jalan Hajjaj ibn Muhammad (riwayat Ahmad dan Muslim).

Kedua, Muhammad ibn 'Ajlan. Periwayat ini dinyatakan tsiqot oleh Ahmad, Ibn Ma'in, Abu Hatim, Abu Zur'ah, al-Ijli, as-Saji, digunakan oleh Abu Dawud, at-Tirmidziy, an-Nasa'iy, Ibn Majah dan lainnya. Tetapi al Bukhoriy tidak menggunakannya pada kitab shohih-nya sebagai dasar atau hujjat tetapi hanya pada riwayat-riwayat mu'allaq sebagaimana diterangkan oleh al-Hafizh pada Muqoddimah Fath al-Bariy hal. 458. Adapun tentang imam Muslim, Ibn Hajar menerangkan, "Hanya saja Imam Muslim men-takhrij-nya sebagai mutabi'at dan ia tidak menggunakannya sebagai hujjah (Tahdzib at-Tahdzib 9:341-342, Mizan al-I'tidal 3:644-647). Muhammad ibn 'Ajlan dianggap sebagai periwayat yang sangat tsiqot tetapi seorang mudallis sebagaimana dinyatakn oleh Ibn Hibban, Ibn Ai Hatim dan yang lainnya.

al-Hafizh Ibn Hajar, pada kitabnya Thobaqot al-Mudallisin, hal. 69, telah memasukannya pada martabat ketiga dari periwayat-periwayat mudallis. Mereka (para mudallis) tidak dijadikan hujjah oleh para imam kecualimereka menegaskan didalam hadits-haditsnya yang menunjukan mereka mendengar (langsung). Muhammad ibn 'Ajlan, pada sanad Hadits ini ber-mu'an'anah (meriwayatkan dengan lafazh tadlis-nya). Dengan demikian, riwayatnya ini tidak dapat diterima, terutama kalau kita perhatikan riwayat Ahmad (al-Musnad li al-Imam Ahmad 5:499 no.16100). Dalam riwayat ini, Muhammad ibn 'Ajlan menerima dari 'Amir ibn 'Abdullah dengan lafazh tahdits (tidak tadlis) yang pada riwayat ini tidak ada tambahan "wa laa yuharrikuha".

Selain bertentangan dengan periwayatanya sendiri, ia pun bertentangan dengan riwayat-riwayat lain, diantaranya periwayatan 'Utsman ibn Hakim dari 'Amir 'Abdullah ibn az-Zubayr(Muslim no. 579) yang juga mendapat tambahan "laa yuharrikuhaa".

Jalan kedua
Hajjaj ibn Muhammad
Ibn Juraij
'Amir ibn Dinar
'Amir ibn 'Abdillah
'Abdullah ibn az-Zubair

Dengan lafazh yang artinya, "Sesungguhnya ia telah melihat Nabi berdoa seperti itu dan ia meletakan tangan kirinya diatas pahanya." Pada jalan sanad ini pun terdapat dua 'illat, yaitu Hajjaj ibn Muhammad (telah diterangkan di atas) dan Ibn Juraij.
Nama lengkap Ibn Juraij adalah 'Abd al-Malik ibn 'Abd al-'Aziz ibn Juraij. Ia seorang periwayat yang tsiqot; dipakai oleh al Bukhoriy, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidziy, an-Nasa'iy, Ibn Majah, asy-Syafi'iy, Ahmad, Ibn Khuzaimah, ad-Daroquthniy, Ibn Hibban, al-Hakim, ath-hobroniy dan yang lainnya. adz-Dzahabiy, di dalam kitabnya Siyar A'lam an-Nubala 6:332, menerangkan sebagi berikut:
"Riwayat-riwayat Ibn Juraij banyak terdapat di kutub as-Sittah, musnad Ahmad, Mu'jam ath-Thobroniy dan al-Ajza, walaupun demikian, Ibn Juraij termasuk periwayat yang mudallis yang ke-tadlis-annya itu telah dinyatakn oleh Yahya ibn Sa'id, Ahmad ibn Hanba, dan adz-Dzahabiy."

Ibn Hajar menyatakan, "Ia men-tadlis dengan lafazh 'an qoola, ukhbirtu 'an fulan, hudditsu 'an fulan.

Imam Ahmad memuji Ibn Juraij dan menerima riwayatnya, jika Ibn Juraij dalam periwayatannya memakai lafazh akhbaroniy atau sami'tu. Tetapi bila Ibn Juraij berkata, "Telah berkata si Fulan" dan "Dikabarkan kepadaku", ia membawa Hadits yang munkar (Siyar A'lam an-Nubala' 6:328).

Pada riwayat yang dipakai Ibn Juraij menggunakan lafazh qoola. Dengan demikian, jelaslah tadlis-nya itu, maka derajat Hadits laa yuharrikuhaa adalah dlo'if/lemah.